Hasil Quick Count Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018 ~ Megawati menunjuk Djarot Saiful Hidayat sebagai calon Gubernur Sumatera Utara periode 2018-2023 dari PDIP pada hari Kamis, 4 Januari 2018. Dengan hadirnya nama Djarot membuat Pilkada Sumatera Utara akan lebih berasa nasional karena Djarot merupakan salah satu tokoh nasional.


Djarot disebut sebagai tokoh nasional karena siapapun yang pernah memimpin DKI Jakarta. Ditambah lagi nama Djarot semakin besar karena pengaruh dari kejayaan pamor Ahok di masa lalu sebagai Gubernur DKI Jakarta. Djarot dan Ahok sudah seperti satu paket, sehingga nama Djarot melambung karena perannya yang menjdi pendamping Ahok ketika memimpin DKI Jakarta. Tapi tidak hanya Djarot yang membuat Pilkada Sumatera Utara lebih berasa nasional.

Sebelum Djarot masuk dalam persaingan Pilgub Sumatera Utara 2018, nama Letjen. Edy Ramayadi sudah lebih dulu terkenal di Sumatera Utara. Bukan hal sulit bagi Letjen. Edy untuk memperkenalkan namanya pada warga Sumatera Utara, karena Edy merupakan Pangkostrad dan Ketua Umum PSSI yang sudah dikenal seluruh masyarakat Indonesia. Peran letjen. Edy pada masyarakat Sumatera Utara sudah tidak diragukan lagi, karena sebelum menjadi Pangkostrad pada 2015, Letjen. Edy sempat menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan.

Kedua nama cagub diatas sudah mulai menjadi perbincangan publik, tidak hanya bagi kalangan masyarakat Sumatera Utara, tetapi hingga seluruh Indonesia. Itulah bukti kekuatan tokoh Djarot Saiful Hidayat dan Letjen. Edy Ramayadi yang mampu membuat Pilkada Sumatera Utara 2018 berasa nasional.

Pada tahun-tahun sebelumnya, Persaingan Pilkada Sumatera Utara tak pernah sesengit ini. Karena selama ini warga Sumatera Utara kebanyakan bersikap apatis dengan keadaan provinsi.

Contoh kasus sebelumnya, untuk kota Medan sebagai ibukota provinsi sempat beberapa kali walikotanya menjadi tersangka kasus korupsi. Bicara tentang jalan mulus, warga Medan tidak pernah mendapatkan jalanan yang mulus. Jalan kota Medan banyak yang berlubang dan sudah menjadi pemandangan yang tidak asing di kota Medan.

Sebagai kota terbesar ke-3 di indonesia, Medan seharusnya tidak seperti itu, sungguh sangat memprihatinkan dengan fakta tersebut. Dan seharusnya Medan tak kalah maju dengan kota-kota besar di Pulau Jawa.

Ditambah lagi sejak 2008 beberapa kali Gubernur Sumatera Utara terkena kasus korupsi. Dan bisa jadi hal-hal inilah yang membuat warga Sumatera Utara menjadi apatis dengan kondisi Sumatera Utara setiap kali pilkada berlangsung.

Tapi tahun ini berbeda, hadirnya Letjen. Edy dan Djarot seakan membuat Pilgub Sumatera Utara 2018 terasa berbeda dari sebelumnya. Dengan masuknya nama Djarot dan Letjen. Edy, ternyata membuat Pilgub Sumatera Utara mulai bergelora.

Tetapi ada suatu catatan khusus, masuknya nama Djarot sebagai cagub dengan predikat "non putra daerah" masih menyisakan tanda tanya. Apabila saya mendapatkan kesempatan untuk menjawab, maaf bermaksud rasis, menurut saya memilih calon dari Suku Batak atau Melayu lebih tepat, meskipun bersuku Jawa, ambillah Puja Kesuma alias putra Jawa Kelahiran Sumatera.

Karena putra daerah yang lebih mengerti watak dan keinginan masyarakat Sumatera Utara. Akan lebih tepat jika kader PDIP seperti Maruarar Sirait, atau Efendi Simbolon. Karena mereka adalah putra daerah asli Sumatera Utara yang banyak mengerti permasalahan dan kultur budaya masyarakat Sumatera Utara. Ditambah lagi keduanya adalah salah satu tokoh daerah yang mampu bersaing.

Hasil Quick Count Djarot Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018

Saya yakin warga Sumatera Utara adalah masyarakat yang siap menerima pemimpin dari kalangan manapun.

Tetapi kemunculan nama Djarot juga bisa menjadi suatu ganjalan, karena itu tadi karena Djarot bukanlah putra daerah. Apalagi untuk Sumatera Utara masih banyak tokoh-tokoh daerah yang mumpuni.

Hadirnya nama Letjen. Edy dan Djarot memang sangat menarik, karena mampu membuat warga Sumatera Utara hilang dari rasa apatisnya karena ada 2 tokoh nasional yang bersaing. Sehingga ada harapan untuk perubahan Sumatera Utara yang lebih baik kedepannya.

Djarot memang memiliki rekam jejak bagus karena pernah menjadi Wagub DKI Jakarta dan Gubernur Defenitif DKI Jakarta selama 6 bulan menggantikan Ahok. Selain itu Letjen. Edy Ramayadi juga bagus karena sebagai putra daerah Sumatera Utara lebih mengerti rakyat Sumatera Utara. Ditambah lagi ia pernah menjabat Panglima Kodam I Bukit Barisan yang bertempat di Kota Medan, serta kepopuleran namanya dalam rana nasional beranjak ketika menjabat Pangkostrad sekaligus Ketua Umum PSSI.

Masuknya nama kedua tokoh nasional tersebut dalam Pilgub Sumatera Utara pastinya akan berpengaruh besar terhadap kesadaran politik masyarakat Sumatera Utara yang sejauh ini meluntur karena sikap apatis terhadap Gubernur sebelumnya.

Hasil Quick Count Djarot vs Edy Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018

Keinginan pemimpin baru dari kalangan masyarakat Sumatera utara mulai terdengar setelah masuknya kedua nama tokoh nasional yaitu Letjen. Edy dan Djarot dalam Radar Pilgub Sumatera Utara 2018.

Mengapa demikian ? Jika melihat peta Politik yang ada saat ini, peralihan dukungan Golkar dan Nasdem kepada Letjen. Edy Ramayadi adalah salah satu contoh dimana sepertinya parpol mencium masyarakat Sumatera Utara mendambakan pemimpin baru.

Sejauh ini hanya Letjen. Edy yang sudah mengantongi dukungan banyak untuk melaju pada Pilkada Sumatera Utara 2018. Letjen Edy telah mengantongi dukungan dari partai Gerindra 13 Kursi DPRD, PKS 9 Kursi, PAN 6 Kursi, serta tambahan dari Nasdem 5 kursi dan Golkar 17 kursi.

Peralihan dukungan dari Nasdem dan Golkar tentu berpotensi membuat Tengku Ery Nuradi tak bisa melaju jika melihat peta politik saat ini. Ditambah lagi Nasdem adalah partai tempat Tengku Ery bernaung, pastinya hal yang mengejutkan Nasdem dan Golkar yang selama ini memiliki kedekatan dengan Tengku Ery dan sekarang mengalihkan dukungannya kepada Letjen. Edy.

Jika peta politik kedepan seperti saat ini memang benar dan Tengku Ery tak bisa meraih parpol lain untuk berkoalisi, maka peluang untuk "head to head" antara cagub Djarot-Edy cukup besar. Ditambah lagi nama kedua tokoh ini semakin terkenal akhir-akhir ini.

Djarot memang lebih mudah mendapatkan dukungan untuk maju. Hal ini dikarenakan PDIP yang memiliki 16 kursi DPRD akan lebih mudah mencari kursi tambahan dari parpol lain. PDIP hanya butuh 4 kursi lagi untuk Djarot maju secara aman agar genap menjadi 20 kursi.

Sehingga tidak berlebihan jika disebut “head to head” Djarot- Edy bepeluang besar untuk terjadi, lagipula sepertinya Djarot dan Edy memiliki massa yang kuat. Djarot memiliki akar massa yang loyal pada Ahok pada masyarakat Sumatera Utara dan masyarakat keturunan Jawa yang berdomisili di Sumatera Utara semenjak lahir. Sedangkan Edy memiliki akar massa masyarakat Sumatera Utara yang menginginkan figur militer untuk jadi pemimpin Sumatera Utara.

Jika benar “head to head” ini terjadi, maka Pilgub Sumatera Utara akan sangat menarik karena kedua tokoh tersebut merupakan tokoh nasional, yang pastinya memiliki pengalaman kompeten dan populer di tingkat nasional.

Pada hasil survei cagub dan cawagub Sumut 2018 yang dilakukan oleh Media Survei Nasional (Median) calon gubernur Edy Rahmayadi menempati posisi pertama dalam survey popularitas dengan 74,5%, diikuti oleh Djarot Saiful dengan 72,1%. Dalam survey terkait siapa yang akan menjadi gubernur, 33,1% memilih Edy Rahmayadi dan 19,2% memilih Djarot.

Masyarakat Sumatera Utara merupakan masyarakat yang terbuka dan apa adanya, seperti halnya Pilgub Sumatera Selatan. Saya yakin siapapun calonnya dan apapun perbedaan pandangan politiknya, jika sudah berdendang bersama di kedai dan bernyanyi sudah pasti rasa perdamaian dan persatuan mudah terjalin kembali. Apapun suku, ras dan agamanya.

Fakta Kandidat Calon Gubernur dalam Pilgub Sumatera Utara 2018

Kandidat calon gubernur dalam Pilgub Sumatera Utara 2018 memang banyak menyita perhatian masyarakat.  Simak ulasan selengkapnya pada artikel di bawah ini !

Tiga kandidat calon gubernur akan bersaing dalam Pilgub Sumatera Utara 2018 yang akan dilaksanakan pada bulan Juni mendatang. Ketiga kandidat calon pemimpin daerah tersebut adalah Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah, JR Siragih – Ance Selian, dan Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus.

Hasil Sementara Quick Count Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018

Pemilihan Gubernur di Sumatera Utara pada tahun 2008 dan 2013 memiliki angka partisipasi yang rendah. Pada kedua pilkada tersebut, golput (golongan putih) selalu menjadi pemenang dalam pemilhan gubernur. Pada pilgub 2008, golput mencapai angka 43% dan naik hingga 51,5% pada pilgub Sumatera Utara 2013. Kasus golput tersebut terjadi lantaran banyaknya perilaku korupsi para pejabat di Kantor Gubernur Sumatera Utara, sehingga banyak masyarakat yang sudah tidak respek dengan calon gubernur Sumut.

Berikut adalah fakta calon gubernur dalam Pilgub Sumatera Utara 2018.

1. Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah

Calon gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi yang didampingi Musa Rajekshah sebagai wakilnya merupakan putra daerah Sumatera Utara. Edy Rahmayadi  adalah mantan Panglima Komando Startegis Angkatan Darat (Pangkostrad). Pasangan calon dan wakil calon gubernur ini didukung oleh banyak partai politik, yaitu Gerindra, PKS, Hanura ,PAN, Nasdem, dan Golkar.

Partai Golkar merupakan pemenang pada Pemilu 2014, dengan raihan angka mencapai 948 suara. Saat ini, partai Golkar memiliki 17 kursi perwakilan di DPRD Sumatera Utara, Gerindra 13 kursi, Hanura 10 kursi, PKS 9 kursi, PAN 6 kursi, dan Nasdem 5 kursi. Jika melihat dukungan keenam parpol yang mendukung pasangan Edy Rahmayadi – Musa Rajekshah bisa dipastikan bahwa kemenangan berada di tangan mereka.

2. JR Siragih – Ance Selian

Selain calon gubernur Edy Rahmayadi, pasangan calon gubernur JR Siragih – Ance Selian juga merupakan putra daerah Sumatera Utara. Kader partai Demokrat, Jopinus Ramli (JR) Siragih merupakan mantan militer yang tercatat menjadi personil elit Paspampres (pasukan Pengaman Presiden) dan pernah menjabat sebagai Komandan Subdenpom Polisi Militer Angkatan Darat (POMAD) Purwakarta, Jabar.

Pasangan calon gubernur ini diusung oleh koalisi tiga partai, yaitu partai  Demokrat, PKPI dan PKB. Saat ini, di dalam DPRD Sumatera Utara terdapat 14 kursi dukungan dari partai Demokrat, 3 kursi dukungan PKPI, dan 3 kursi dukungan dari PKB.

3. Djarot Saiful Hidayat – Sihar Sitorus

Persaingan dalam pigub Pilgub Sumatera Utara 2018 memang sangat terasa setelah partai PDI Perjuangan menurunkan Djarot Saiful Hidayat sebagai kandidat calon gubernur. Awalnya beberapa pakar politik menilai bahwa tindakan tersebut adalah bunuh diri. Namun, setelah ditelisik, tindakan tersebut merupakan pilihan untuk masyarakat Sumatera atas isu putra daerah yang tengah terjadi di lingkungan politik Sumut.

Meskipun bukan berdarah Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat yang berdarah Jawa memiliki rekam jejak yang bagus di kancah politik. Beliau pernah menjabat dua periode sebagai Walikota Blitar (2000-2010) dan Wakil Gubernur DKI Jakarta (2014-2017). Djarot yang merupakan kader partai PDIP akan didampingi oleh Sihar Sitorus dari PPP. Saat ini PDIP memiliki 16 kursi di DPRD Sumut sedangkan PPP memiliki 4 kursi. Apalagi mengingat bahwa etnis Jawa yang tinggal di Sumatera Utara mencapai angka 32,63%, maka pasangan calon gubernur ini juga memiliki peluang yang cukup besar untuk memenangkan Pilgub Sumatera Utara 2018 mendatang.

Hasil Quick Count Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018 : silahkan cek update terbaru di QCPilgub.

Ketiga kandidat calon gubernur dan wakilnya memiliki potensi masing-masing untuk memenangkan Pilgub Sumatera Utara 2018. Dengan adanya ketiga calon gubernur tersebut, diharapkan angka golput pada pilkada mendatang akan menurun. Semoga pemimpin yang terpilih akan menjadi pemimpin yang amanah agar masyarakat kembali percaya kepada pemimpin daerah.



Proses menunggu data perhitungan suara yang masuk, silahkan kembali sesaat lagi.

Description
: Hasil Quick Count Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018
Rating
: 4.5
Reviewer
: Windari Sanjaya
ItemReviewed
: Hasil Quick Count Pilgub Sumatera Utara Sumut 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar